Nasehat dan Cinta Rakyat ala Kho Ping Hoo

Bagikan Cerita Ini ke Teman-Temanmu!

Nasehat dan Cinta Rakyat ala Kho Ping Hoo

Kho Ping Hoo adalah sosok yang bersahaja dan idealis. Ia jarang mengungkapkan pikiran-pikiran dan idealismenya di hadapan umum secara langsung, namun Ia lebih memilih mengungkapkannya dalam  karya cerita silatnya.

Cerita Silat karya Kho Ping Hoo, baik berlatar belakang Tiongkok, Indonesia, Novel dan Roman sarat dengan nasehat, konflik,  ketegangan, dendam dan asmara, sama seperti kehidupan riil manusia.

Pesan kho ping hoo inilah yang membuatnya memiliki ke-khasan tersendiri.

Saya akan menuliskan dalam beberapa artikel mengenai hal ini.

Dalam banya cerita silat dengan latar belakang sejarah dan roman Tiongkok, seperti  Bu Kek Sian Su, Suling Emas, Kisah Tiga Naga Sakti, Pendekar Super Sakti,   terlihat jelas bagaimana sikap kho ping hoo mengenai perang yang selalu menimbulkan kesengsaraan terhadap rakyat.

Ia melukiskan bagaimana anak-anak menjadi anak yatim piatu, menjadi gelandangan, mati kena penyakit, kelaparan dan tidak menimati pendidikan.

Kaum wanita juga menjadi korban keganasan para penjahat perang, disiksa, dibunuh, meski ada juga yang diperistri dengan cara yang pantas pada masa peperangan.

Terhadap peperangan, Kho Ping Hoo hendak mengatakan  bahwa sesungguhnya penyulut peperangan adalah hati orang yang hendak memenuhi  nafsu pribadinya semata, tetapi selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat, padahal rakyatlah yang jadi korban, baik yang menang apalagi yang kalah perang.

Namun dari medan peperangan jugalah, Kho Ping Hoo juga menceritakan ada anak-anak yang lahir dan tumbuh menjadi hebat dari kondisi hidup yang berat, dari kecil belajar ilmu silat mati-matian dan akhirnya jadi pendekar pembela kebenaran dan keadilan.

Sosok seperti itu bisa kita lihat pada diri Kwee Lun dab Han Swat Hong dalam Bu Kek Sian Su; Suma Han dalam cerita silat Pendekar Super Sakti; Kui Eng, Gan Ben Han dan Tan Bu Hong  dalam cerita Kisah Tiga Naga Sakti; Kwee Seng dan Kam Bu Song dalam cerita Suling Emas.

Pendekar-pendekar yang lahir dari medan perang itulah, seperti yang diceritakan oleh Kho Ping Hoo, yang menjadi orang yang memiliki daya tahan yang luar biasa atas tekanan hidup, memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama manusia, peka akan ketidakadilan dan menjunjung tinggi norma sosial dan adat-istiadat.

Jadi dalam keadaan sesulit apapun, Kho Ping Hoo menyisipkan nasehatnya agar manusia jangan menyerah, karena dalam keadaan berat pun bisa tercipta masa depan  yang baik kalau mau berusaha.

Selain cerita perang, Kho Ping Hoo sangat fasih dalam membangun alur cerita silat yang penuh ketegangan (suspend) dalam serial cerita silatnya.

Misalnya pada kisah Sepasang Rajawali (62 jilid), Kisah Sepasang Rajawali (57 jilid) dan Pendekar Lembah Naga (57 jilid), ceritanya menjadi panjang, saling bertautan, penuh dengan bumbu petualangan asmara dan dendam, kisah pencarian ilmu tingkat tinggi dan pertarungan-pertarungan yang menegangkan.

Tanpa terasa, para pembacanya terbawa dalam arus emosi  di dalamnya. Itulah mengapa misalnya, begitu jild ke 7 habis dibaca, kita ingin segera membaca jilid 8, 9, 10 dan seterusnya.

Kho Ping Hoo terbukti piawai dan cerdas dalam mengaduk-aduk emosi dan rasa penasaran para pembacanya.

Nah, dalam kisah-kisah seperti itu, Kho Ping Hoo selalu menyelipkan nasehat-nasehatnya.

Misalnya, Ia menekankan bahwa seorang pendekar pembela kebenaran harus berhati mulia, tidak boleh dendam dan menyimpan kesalahan orang lain.

Dalam artikel selanjutnya, Saya akan menuliskan mengenai Dendam dan juga asmara dalam cerita silat Kho Ping Hoo dan apa pesan Kho Ping Hoo mengenai soal ini?

Tunggu dalam artikel Kho Ping Hoo selanjutnya..

Bagikan Cerita Ini ke Teman-Temanmu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>